
Sebuah komunitas tidak mesti terbentuk secara formal. Ditilik dari hobi yang sama dengan massa yang banyak, walaupun tidak ada ikrar resmi hal itu bisa dianggap suatu komunitas. Hasrat “shoping” dan selera makan nasi di warung krempyeng yang biasanya dilakukan masyarakat dan mahasiswa Unnes ketika pagi, sepertinya sah-sah saja kita menyebutnya komunitas nasi krempyeng.
Warung tersebut terletak di dukuh Banaran, Sekaran, Gunungpati Semarang. Persisnya berada di samping lapangan Banaran dekat gang kalimasada. Tempatnya tidak terlalu besar sich, luasnya sekitar 10 x 7 meter. Kenapa dikatakan warung krempyeng? Menurut tuturan beberapa masyarakat setempat, warung krempyeng juga bisa dikatakan warung kaget. Dahulu asal mulanya hanya beberapa orang yang berjualan di tempat itu, karena letaknya yang strategis sehingga banyaklah pembeli berdatangan. Kondisi ini meyedot penjual lain untuk ikut bersaing meraup rupiah di tempat itu.
Denyut nadi dan geliat penjual di warung krempyeng biasanya mulai nampak setelah subuh kira-kira pukul 04.30 WIB. Ketika sang surya sudah mulai terlihat, sang pembeli juga biasanya mulai tampak ramai. Pembeli yang sering kesana sebagian besar adalah mahasiswa Unnes. Mahasiswa yang melakukan jogging di pagi hari biasanya juga menyempatkan mampir ke tempat itu untuk sekedar “mengganjal perut” atau melihat keramaian pasar.
Untuk bisa merasakan nasi krempyeng tidak banyak kocek yang harus dikeluarkan. Cukup dengan uang Rp. 2.000,00 kita bisa merasakan lezatnya nasi gudangan ditambah satu gorengan mendoan. Di tempat ini sajian yang di jual sangat terjangkau. Sangat cocok bagi kalangan mahasiswa yang mempunyai kocek pas-pasan. Tapi walaupun harganya murah, kenyataannya banyak juga dari kalangan masyarakat dan mahasiswa menengah ke atas yang membeli di tempat itu. hal itu diantaranya karena menunya murah dan enak, suasananya yang humanis dan akrab untuk berbagai kalangan.
Di sela-sela penjual menghidangkan sajian, banyak pembeli yang menunggu sambil ngobrol bersama teman yang lain. Topiknya pun luas, mulai dari masalah tugas kuliah, hobi, curhat pacar, harga buku kuliah, membahas dosen killer, masalah keluarga dan banyak topik yang lain. Maklum, pembeli memang sebagian besar mahasiswa Unnes. Jadi topik yang dibahas pun juga bervariasi.
Dari hobi suka “nongkrong” di warung krempyeng ketika pagi ini pun ada banyak manfaatnya. Kita bisa ketemu dengan teman, masyarakat, bahkan kita bisa mendapat teman baru di sana. Jika diamati, di warung krempyeng sepertinya ada interaksi yang bisa dikatakan sebagai simbiosis mutualisme. Penjual yang sebagian besar masyarakat setempat untung karena dagangannya laku, pembeli yang sebagian besar mahasiswa Unnes juga untung karena merasakan menu sajian sarapan pagi dan manfaat yang lain.
Fenomena tersebut menggambarkan sebagai interaksi sosial masyarakat yang harmonis. Kondisi keakraban yang dirasakan pembeli di warung krempyeng tidak sama ketika semisal mereka shoping mall, cafe, atau di tempat mewah yang lain. Kebanyakan ketika sedang di mall, bisa diamati sikap individualistik dan hedonisme pembeli sangat besar. kondisi itulah yang perlahan tapi pasti mulai menggeser semangat interaksi yang humanis antarmasyarakat. Banyak contoh yang menguatkan statement itu.
Ditambah lagi pesatnya teknologi informasi, walaupun banyak manfaatnya, tapi juga ada sisi buruknya bagi menurunnya partisipasi masyarakat dalam suatu pertemuan publik. Ucapan minta maaf yang dahulu dilakukan dengan bertatap muka, sekarang bisa diganti dengan ucapan minta maaf lewat pesawat telepon atau Hand Phone (HP). Bahkan bisa juga dengan SMS. Acara kondangan atau syukuran walaupun dengan tetangga dekat terkadang juga ada masyarakat yang acuh dan tak mau menhadirinya. Mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan sampai lupa dengan hubungan interaksi dengan masyarakat sekitar. Hal itu sah-sah saja, tapi jika hal tersebut menjadi kebiasaan masyarakat, tentu itu menjadi problem baru.
Dari pandangan tersebut, agaknya pembeli nasi krempyeng yang bisa disebut komunitas nasi krempyeng bisa menjadi renungan bagi kita. Renungan tentang apa? Yang pasti interaksi sosial dalam bermasyarakat. Apakah kita merasakan ada perubahan kemajuan dalam perilaku masyarakat kita, atau makin terasanya degradasi sosiologi moralistik dalam masyarakat?
Mungkin kita punya jawaban berbeda dari pertanyaan itu. tapi yang pasti tentunya kita mengaharapkan adanya perilaku manusia yang humanistik. Saling bertegur sapa itu penting. Berkomunikasi langsung maupun tidak langsung juga penting. Asal hal yang dilakukan itu ada tujuan positif dan tidak ada muatan negatif yang terkandung.
Dari uraian di atas, hendaknya kita bisa mengambil satu nilai positif dari interaksi komunitas nasi krempyeng. Semangat dan kebersamaan yang nampak bisa menjadi benih kerukunan dalam masyarakat. itulah pentingnya sebuah interaksi. Di dalamnya melahirkan keharmonisan antarpelakunya. Penulis pun berharap demikian bagi komunitas Mantuku Unnes. Walaupun intensitas ketemu yang jarang, harapannya semangat kebersamaan dan tali silaturahmi kita tetap terjaga. Semoga saja..... Amin.
Muhammad Noor Ahsin
Pemerhati Masalah Sosial Budaya
1 comment:
aslamkm...
sblumnya, ak m0 bilang..
"lha 0q murah mEn..??" saya Qra di Smg, khususnya UNNEs gak afd harga mkanan yang semurah itu, ya pikirku minim Rp. 3500, ternyata ada ya.. kpan2 mampir ahhh... hehehe :-) ;-)
Post a Comment